1. Zaman Pra-Sejarah.
a.
Zaman
Jomon (10.000 SM – 200S M).
·
Orang - orang tinggal berkelompok di
rumah – rumah yang terletak di tanah agak tinggi.
·
Rumahnya di buat dari, pohon untuk
tiangnya dan atapnya terbuat dari rumput.
·
Peninggalan Perkakas
Batu dan Tembikar Bermotif Tambang.
·
Kepercayaan Animisme.
b.
Zaman
Yayoi (200 SM – 250 M).
·
Tempat tinggal mulai pindah ke dataran
rendah.
·
Mulai adanya kesatuan – kesatuan
masyarakat, desa - desa bergabung.
·
Mulai
ada Pertanian Perkakas Logam: Besi
dan Logam.
·
Sistuasi
pertanian dapat di ketahui dari gambar yang terdapat pada lonceng perunggu yang
merupakan peninggalan zaman ini.Pertanian mulai bertambah besar muncul kerajaan-kerajaan kecil.
·
Pasukan terkuat: Klan Yamatai ( dipimpin
oleh Ratu Himiko).
2. Zaman Monarki Awal.
a.
Zaman
Yamato (250 M – 255 M)
·

Abad
ke-4 Gazoku ( klan yang berkuasa)
di daerah Yamato, bergabung membentuk kerajaan besar Pemerintahan Yamato.
·
Akhir
abad ke-5 berhasil menguasai
sebagian besar wilayah Jepang.
·
Abad ke-5 dan ke-6: dibentuk Negara
Yamato oleh politik pusat dangan penguasanya disebut Okami.
·
Kerajaan di perintah oleh Kaisar, tapi
roda pemerintahan utama berada pada Klan (Gazoku).
·
Peninggalan
Zaman Yamato Kuburan – kuburan besar ( KOFUN ).
b.
Zaman
Asuka – Hakuo (250 M – 710 M).
·
Abad
ke-5 orang Cina dan korea datang dan menetap di jepang Torajin.
·
Orang Cina membawa kebudaaan yang lebih
besar, berupa Huruf Kanji dan Konfisianisme.
·
Abad ke-6, mulai masuknya agama Budha ke
Jepang melalui orang China dan Korea.
·
Muncul konfilk antara Klan Momonobe yang
menolak agama Budha dan Klan Soga yang menerima agama. Pada akhirnya Konflik
ini di menangkan oleh klan Soga.
·
Muncul
Pangeran Shotoku (Shotoku Taishi)
orang yang berjasa dalam mengembalikan kekuasaan Kaisar yang mulai
memudar.
c.
Zaman
Nara (710 M – 794 M).
·
Ratu Genmei memindahkan Ibukota dari
Asuka ke Nara pada tahun 710.
·
Kekuasaan di bawah sistem Ritsutyou.
·
Tata letak kota mengikuti/meniru kota
Tang di China, di bagi dengan jalan-jalan sehingga menyerupai papan catur.
·
Sudah mulai muncul sistem uang dalam
bentuk logam yang terbuat dari emas, perak, dan tembaga yang di beri nama Wado
dan Kaido.
·
Para bangsawan terlalu berlebihan
terhadap agama Budha terlalu besar.
Ø Dan hal ini menyebabkan:
-
Banyak petani yang meninggalkan tanahnya
dan hidup menderita, serta mereka pergi ke kota untuk mencari pekerjaan lain,
tapi akhirnya malah menjadi gelandangan. Dan para bangsawan hidup berkecukupan.
3.
Zaman Monarki Akhir (794 M – 1185 M ).
a.
Zaman Heian.
·
Ketika perselisihan di
kerajaan semakin memuncak, khususnya antara pendeta Budha dan para bangsawan
serta semakin goyahnya Taiho Ritsuryou. Kaisar kanmu memindahkan dari Nara ke
Heian (Kyoto). Dan sampai kurang lebih 1100 tahun berikutnya Kyoto menjadi
Ibukota Jepang dan merupakan Pusat Tahta Kerajaan.
·
Tujuan dipindahkannya
Ibukota ialah menegakkan kembali sistem pemerintahan disatu titik. Dan
membendung pengaruh pendeta Budha di nara yang terlalu banyak ikut campur.
·
Pemilikan tanah pada
zaman ini berpusat pada tanah pertanian pribadi (Shoen), yang dimiliki oleh
para bangsawan dan mengangkat para pegawai (Shokan).
4.
Zaman Feodal Awal.
a.
Zaman Kamakura (1185 M
– 1333 M).
·
Yoritomo menguasai
Jepang dengan sistem pemerintahan militer (pemerintahan Bakufu) dan mendirikan
pusat pemerintahan di Kamakura. Saat itu ada 2 macam pemerintahan yaitu
pemerintahan sipil dan agama yang dipimpin oleh oleh Tennō yang ada di Kyoto
dan pemerintahan militer (bakufu) yang dipimpin oleh Yoritomo yang ada di
Kamakura.
·
Pada zaman ini lahir
golongan prajurit yang disebut Samurai, sehingga pada zaman ini muncul dua
orang pembuat pedang yang terkenal yaitu Masamune dan Muramasa.
·
Setelah zaman ini
hancur maka muncul maka muncul penggantinya yang diberi nama:
Ø Restorasi Kemmu (1333 M – 1336 M).
-
Go-Daigo kembali bertahta pada tahun
1333, dan mendirikan pemerintah baru dengan kekuasaan yang terpusat di tangan
kaisar. Kemmu adalah nama zaman baru yang dimulai tahun 1334. Istilah
“Restorasi Kemmu” merupakan terjemahan dari istilah serupa, Kemmu no Chūkō.
-
Pemerintah Kaisar Go-Daigo akhirnya
ditumbangkan Ashikaga Takauji pada tahun 1336 yang sekaligus menandai
berakhirnya periode Restorasi Kemmu.
b.
Zaman
Muromachi (1338 M – 1573 M).
·
Kekuasaan pemerintah berada di tangan
Keshogunan Ashikaga yang juga disebut Keshogunan Muromachi. Pendiri Keshogunan
Ashikaga adalah Ashikaga Takauji yang merebut kekuasaan politik dari Kaisar
Go-Daigo dan sekaligus mengakhiri Restorasi Kemmu.
·
Zaman Muromachi juga disebut zaman
Nanboku-cho atau zaman Istana Utara-Istana Selatan ketika kekuasaan istana
terbelah dua menjadi Istana Utara dan Istana Selatan.
·
Zaman Muromachi berakhir pada tahun 1573
ketika shogun ke-15 sekaligus shogun Muromachi terakhir, Ashikaga Yoshiaki
diusir dari ibu kota Kyoto oleh Oda Nobunaga.
c.
Zaman
Azuchi-Momoyama (1568 M – 1600 M).
·
Jepang bersatu secara militer dan negara
menjadi stabil di bawah kekuasaan Oda Nobunaga yang dilanjutkan oleh Toyotomi
Hideyoshi.
·
Istilah zaman Azuchi-Momoyama berasal
dari nama istana (kastil) yang menjadi markas kedua pemimpin besar, Nobunaga di
Istana Azuchi dan Hideyoshi di Istana Momoyama.
5. Zaman Feodal Akhir.
a.
Zaman
Edo (1603 M – 1868 M).
·
Tokugawa Ieyasu mengalahkan para
pengikut setia Toyotomi di pertempuran Sekigahara (Sekigahara no Tatakai) pada
tahun 1600, ia diangkat menjadi shogun pada tahun 1603 dan mendirikan
pemerintahan militernya di kota Edo (Edo Bakufu).
·
Kelas samurai ditempatkan oleh
keshogunan di atas kelas rakyat biasa, petani, perajin, dan pedagang.
Keshogunan mengeluarkan undang-undang yang mengatur segala aspek kehidupan,
dimulai dari potongan rambut dan busana untuk masing-masing kelas dalam
masyarakat.
6. Zaman Modern.
a.
Zaman
Meiji (1867 M– 1912 M).
·
Pada tahun-tahun pertama
pemerintahannya, kaisar Meiji memindahkan ibukota kekaisaran dari Kyoto ke Edo.
Edo pun berganti nama baru menjadi Tokyo (ibu kota Timur).
·
Andanya Undang-Undang dasar yang
menetapkan sebuah kabinet dan badan-badan legistlatif. Golongan-golongan masyarakat
selama masa Edo yang membuat masyarakat menjadi terbagi berdasarkan kasta pun
dihapuskan.
·
Adanya Restorasi Meiji yang terjadi 1868
yang akhirnya mengakhiri kekuasaan feodal Keshogunan Tokugawa. Dan memiliki 5
kebijakan yang sudah disetujui.
b.
Zaman
Taisho (1912 M- 1926 M).
·
Kaisar Yoshihito tidak berada dalam
kondisi kesehatan yang baik, sehingga terjadi pergeseran kekuatan politik dari
negarawan senior (genrō) ke Parlemen Jepang dan partai-partai politik. Oleh
karena itu, periode ini juga disebut masa gerakan liberal yang disebut
demokrasi Taishō.
·
Akhir zaman Taishō ditandai dengan
besarnya investasi pemerintah di dalam negeri dan luar negeri, serta
proyek-proyek pertahanan yang hampir menguras kas negara, dan kurangnya devisa
untuk membayar utang.
·
Pada tahun 1914, jepang ikut dalam
perang duna 1 namun hanya memainkan peranan kecil. Baru pada tanggal 23 Agustus
1914 Jepang mendeklarasikan perang dengan Jerman, dan akhirnya Jepang berhasil
menduduki daerah jajahan Jerman dan China. Demi menghindari kecurigaan dunia,
Jepang melalui perdana mentrinya untuk tidak merampas hak China. Tapi Presiden
Yuan Shi Kai meminta Jepang untuk mengembalikan wilayah Jazirah Shandong kepada
China seutuhnya. Namun Jepang tidak menyetujui permintaan Presiden Yuan Shi Kai
dan kemudian mengajukan Twenty One Demands kepada China.
c.
Zaman
Showa (1926 M–1989 M).
·
Sejak Kaisar Hirohito naik tahta pada 25
Desember 1926 hingga wafat pada 7 Januari 1989. Tahun Shōwa berlangsung hingga
tahun 64 Shōwa, dan merupakan masa pemerintahan terpanjang dari seorang kaisar
di Jepang (62 tahun 2 minggu), walaupun tahun terakhir zaman Shōwa (tahun 64
Shōwa) hanya berlangsung selama 7 hari.
·
Jepang memasuki periode totalitarianisme
politik, ultranasionalisme, dan fasisme yang berpuncak pada invasi ke Cina pada
tahun 1937. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari masa konflik dan kekacauan
di seluruh dunia, seperti halnya Depresi Besar dan Perang Dunia II.
·
Dekade 1980-an merupakan masa keemasan
ekspor otomotif dan barang elektronik ke Eropa dan Amerika Serikat sehingga
terjadi surplus neraca perdagangan yang mengakibatkan konflik perdagangan.
Setelah Perjanjian Plaza 1985, dolar AS mengalami depresiasi terhadap yen.
·
Pada Februari 1987, tingkat diskonto
resmi diturunkan agar produk manufaktur Jepang bisa kembali kompetitif setelah
volume ekspor merosot akibat menguatnya yen. Akibatnya, terjadi surplus
likuiditas dan penciptaan uang dalam jumlah besar. Spekulasi menyebabkan harga
saham dan realestat terus meningkat, dan berakibat pada penggelembungan harga
aset di Jepang.
7. Zaman Hesei (1989 M – Sekarang)
·
Di siang hari setelah Kaisar Hirohito
mangkat, sebuah dewan yang terdiri dari delapan orang ahli dibentuk untuk
memutuskan nama zaman berikutnya. Pemerintah mengajukan dan meminta
pertimbangan atas 3 buah nama zaman yang baru ke hadapan anggota dewan, dan
Ketua/Wakil Ketua Majelis Rendah Jepang serta Majelis Tinggi Jepang.
·
Nama Heisei dicipta daripada dua
karakter Cina (kanji) yang membawa maksud
"keamanan" dan "menjadi". Pada awal zaman Heisei,
keadaan ialah lebih tenang untuk masyarakat Jepun berbanding beberapa dekad
terakhir zaman Showa (1926-1989), yang merupakan pemulihan dan pertumbuhan
dramatik Jepun selepas dikalahkan dengan teruk dalam perang Dunia II
(1939-1945).
·
Sampai sekarang sudah 27 zaman Hesei.